PENGELOLA WAKAF

Siapa Pengelola Wakafmu?

Shodaqoh jariyah adalah sedekah yang diberikan secara terus-menerus kepada penerima sedekah. Diberikan berkelanjutan tanpa batasan waktu. Karenanya, sedekah ini kemudian mengalirkan pahala untuk pelakunya secara terus-menerus tanpa batasan waktu, hingga setelah kematiannya. Bahkan hingga ratusan atau ribuan tahun setelahnya; atau lebih sedikit dari itu, bergantung pada penanganan dan pengelolaan shodaqoh jariyah itu sendiri.
 
Shodaqoh jariyah, mudahnya, diberikan berupa penyerahan harta benda yang tidak bisa habis dalam sekali pakai bahkan bisa terus dipakai untuk waktu yang sangat lama sehingga dengan sekali menyedekahkan harta benda semacam ini seseorang seakan-akan terus memberi sedekah (berupa manfaat) kepada banyak orang untuk waktu yang lama bahkan hingga setelah kematiannya. Harta benda ini semisal tanah atau bangunan yang senantiasa dimanfaatkan untuk kegiatan kebajikan.
Shodaqoh jariyah inilah makna dari wakaf. Karena tanpa wakaf (penahanan harta asal) maka harta sedekah itu akan langsung hilang darinya dan berganti kepemilikan menjadi milik si penerima. Dan jika sudah bukan menjadi miliknya akankah ia bisa mengalirkan pahala-pahala yang berikutnya kepadanya?
 
Dalam kondisi yang mana pun dari dua kondisi di atas, diperlukan adanya pengelolaan agar shodaqoh jariyah bisa berjalan dan berfungsi sebagaimana seharusnya.
Nah, lalu kemana hendaknya kita menyerahkan pengelolaan shodaqoh jariyah?
Ada dua pilihan—dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing—yang bisa kita pilih. Kedua pilihan tersebut adalah:
 
  • Pengelolaan diserahkan kepada individu; individu ini bisa berupa: diri sendiri (dikelola sendiri); dikelola oleh anak atau keturunan sendiri; dikelola oleh tokoh yang dipercayai, semisal kyai fulan, ustadz fulan; atau yang lainnya.
  • Pengelolaan diserahkan kepada lembaga atau badan hukum; yaitu lembaga-lembaga yang memfokuskan aktifitasnya pada pengelolaan wakaf.
Dari dua pilihan yang ada, hal-hal berikut perlu kita pertimbangkan untuk kemudian bisa menentukan pilihan yang tepat untuk menyerahkan pengelolaan shodaqoh jariyah kita. Hal-hal tersebut adalah:
 
  1. Visi. Pengelola individu biasanya tidak memiliki visi yang jelas, berbeda dengan lembaga. Lembaga biasanya memiliki visi yang jelas.
  2. Mekanisme Penyaluran. Dalam penyaluran sedekah, pengelola individu biasanya mudah terbawa perasaan sehingga akan memberikan sedekah sesuai dengan kecenderungan perasaannya saat itu; sementara pengelola berupa lembaga, penyalurannya akan didasarkan pada pengkajian dan obyektifitas.
  3. Program. Pengelola individu biasanya tidak memiliki program yang teratur, sementara pengelola berupa lembaga memiliki program yang teratur dan terukur.
  4. Kesinambungan/kontinyuitas. Pengelola individu biasanya tidak memiliki infrastruktur informasi yang memadai sehingga menuntut effort yang harus diulang di setiap peristiwa, sementara pengelola berupa lembaga biasanya memiliki infrastruktur yang terintegrasi sehingga dapat menghemat waktu dan tenaganya.
  5. Kedisiplinan dan ketelitian. Pada pengelolaan indivu rawan terjadi penyalahgunaan; sementara pada pengelolaan lembaga terdapat sistem pengawasan yang bisa meminimalisir terjadinya penyalahgunaan.
  6. Pemaparan/pelaporan capaian. Pada pengelolaan individu, capaiannya tidak mudah dipaparkan atau dilaporkan; sementara pada pengelolaan oleh lembaga, capaian itu mudah dipaparkan karena kejelasan mekanisme penyaluran yang dimilikinya.
  7. Tindak lanjut. Pada pengelolaan individu, tindak lanjut berjalan melalui penyaluran paling akhir; sementara pada pengelolaan oleh lembaga tindak lanjut berjalan berkesinambungan sesuai data dan program lembaga.
Itulah dua pilihan beserta pertimbangannya untuk kemudian bisa menentukan kemana menyerahkan pengelolaan shodaqoh jariyah kita, wakaf kita, agar secara efektif menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya sehinga mengalirkan pahala sederas-derasnya kepada kita. Itulah wakaf. Itulah sodaqoh jariyah. Itulah peradaban Islam!!!
PENGELOLA WAKAF

Leave a Reply

Scroll to top