KISAH KONSULTASI WAKAF

Kisah Konsultasi Wakaf

Tatkala kaum Muslimin memenangkan Perang Khaibar melawan kaum Yahudi (tahun 7 H. / 628 M), diantara pasukan yang turut dalam peperangan ini adalah sahabat senior, Umar bin Khatthab—radliyallahu `anh. Atas kemenangan tersebut Umar bin Khatthab mendapat bagian tanah di Khaibar, tanah subur dengan pohon-pohon kurma makmur tumbuh di atasnya. Sebuah properti istimewa yang belum pernah dimiliki oleh Umar bin Khatthab selama hidupnya.
 
Rasa girang dan bingung bercampur memenuhi dirinya. Ia pun lantas mendatangi Rasulullah shallahu `alaihi wa sallam meminta saran apa yang harus dilakukannya terhadap harta istimewanya itu.
 
“Wahai Rasulullah,” kata Umar, “saya mendapat tanah di Khaibar yang bagi saya, saya belum pernah mendapatkan harta yang lebih bagus dari itu, maka apa yang Anda perintahkan kepadaku terhadap harta tersebut?”
 
“Kalau kau mau,” jawab Rasulullah, “kau pertahankan pokoknya dan bersedekah dengan (hasil)-nya!”
 
Byaar! Terang benderang. Gemerlap cahaya petunjuk menyempurnakan kegirangannya dan menghapus kebingungannya.
 
Umar kemudian bersedekah menggunakan harta tersebut. Bukan dengan cara menjual tanah atau pohon kurma yang merupakan harta pokoknya itu, bukan pula dengan cara memberikan kebun tersebut kepada orang lain, tidak pula dengan cara membiarkannya menjadi harta tirkah yang akan diwarisi oleh keturunan atau ahli warisnya kelak, tetapi dengan cara menyedekahkan hasilnya untuk selama-lamanya; untuk disalurkan kepada para fakir, sanak kerabat, sahaya, sabilillah, musafir, dan para tamu yang berkunjung. Juga, untuk orang yang mengelola dan menjalankan sistem sedekahnya itu.
 
Itulah konsultasi mengenai jalan harta yang paling bisa memberikan keuntungan kepada pemiliknya dan kepada khalayak, umat seluas-luasnya. Itulah wakaf. Itulah sodaqoh jariyah.
Itulah peradaban Islam!!!
KISAH KONSULTASI WAKAF

Leave a Reply

Scroll to top